ISSTH Buku 1 Bagian 6

Prev Chapter | Next Chapter


Bagian 6: Kemampuan Cermin Tembaga

Elder Sister Xu cukup dikenal di Reliance Sect. Bahkan bisa dikatakan bahwa semua orang mengenalnya, karena saat ini, Reliance Inner Sect hanya memiliki dua orang murid.

Selain Elder Sister Xu, satu-satunya murid lain adalah pria yang saat ini berdiri di samping Shangguan Xiu.

Setelah Elder Sister Xu meminjamkan Gua Immortal-nya kepada Meng Hao, hal tersebut membuat efek yang cukup mengejutkan setiap orang, sehinnga memberi kesempatan buat Meng Hao meninggalkan alun-alun dengan membawa Spirit Stone dan Spirit Condensation Pill. Semua orang menatapnya saat dia pergi.

Saat dia berjalan menjauh, punggungnya basah oleh keringat, dia merasakan tatapan melotot di belakangnya seperti pisau tak kasat mata. Tatapan marah tesebut terasa menghilang saat ia berjalan pergi semakin cepat.

Beberapa waktu kemudian, Meng Hao berjalan tanpa henti. Dia tidak kembali ke kamarnya di Outer Sect, melainkan mengikuti White Jade Slip yang diberikan Elder Sister Xu menuju  ke Gunung Selatan. Di kaki gunung, ia menemukan Gua Immortal yang dimaksud.

Di luar gua, dua lempengan batu besar menjulang di samping permukaan gunung. Semuanya ditutupi dengan cabang dan tanaman merambat hijau; Tempat itu tampak sama sekali tidak biasa, sangat berbeda dengan dua rumah Meng Hao sebelumnya.

Lingkungan di sini damai dan teduh. Tidak jauh, ada sebuah mata air pegunungan mengalir deras, dan hembusan angin memberikan hawa udara segar yang sejuk.

Meng Hao berdiri di depan mulut Gua Immortal, terlihat benar-benar puas. Sekarang dia benar-benar mengerti betapa berharganya gua semacam itu, jelas jauh lebih jberharga daripada tempat tinggal lainnya. Tidak heran semua murid Outer Sect lainnya tampak sangat cemburu dan iri saat Elder Sister Xu memberikannya kepadanya.

“Ini adalah tempat untuk para Immortals,” kata Meng Hao. Dia melambaikan tangan kanannya, dan White Jade Slip tadi melayang maju kearah pintu batu hijau gua itu. Ditepuknya permukaannya, dan suara dengung memenuhi udara saat pintunya terbuka.

Gua Immortal ini tidak terlalu besar, dan hanya memiliki dua ruangan. Satu ruangan untuk berlatih kultivasi, satu lagi tertutup rapat dengan pintu batu. Meng Hao masuk, dan pintu batu hijau perlahan tertutup di belakangnya. Setelah tertutup, White Jade Slip tadi melayang kembali ke tangan Meng Hao. Setelah itu, cahaya lembut mulai timbul dari langit-langit batu yang kasar.

Semakin dia melihat sekeliling, semakin puas yang dia rasakan. Akhirnya, tatapannya jatuh ke pintu batu yang tertutup rapat. Sambil bergumam pada dirinya sendiri, dia meletakkan White Jade Slip tadi di atasnya, dan pintunya perlahan terbuka. Pada saat itu, aroma energi spiritual yang kental tiba-tiba tercium. Meng Hao melihat ke dalam ruang batu, matanya melebar karena terkejut.

“Gua Immortal Elder Sister Xu, ini … hadiah ini terlalu berharga.” Butuh beberapa saat baginya untuk memulihkan ketenangannya. Dia menatap kosong ke dalam ruang batu, pada sesuatu yang tampak seperti mulut mata air. Dari mata air itu menggelegak keluar energi spiritual murni, berwarna-warni dan bercahaya saat melingkar di udara. Siapa yang tahu berapa lama energi tersebut terakumulasi di ruangan batu ini. Begitu pintu dibuka, energi tersebut langsung keluar, aromanya harum di hidung dan mulut. Bahkan hanya dengan mengendus akan terasa badan dipenuhi energi.

“Jadi ini Mata Air Energi (spirit spring),” gumam Meng Hao. ini adalah hal baru yang belum pernah dia lihat sebelumnya, tapi pernah membacanya di Manual Qi Condensation. Beberapa sumber mata air di dunia adalah Spirit Springs, yang tidak mengeluarkan air. Sebaliknya, malah mengeluarkan energi spiritual. Hanya ada sedikit, dan kebanyakan dikuasai oleh Cultivator, mengingat betapa berharganya energi spiritual yang dihasilkan.

Spirit Spring tersebut relatif kecil. Ketika semua energi spiritualnya keluar, energi yang terbentuk terlihat hanya sedikit lebih tebal di luar. Bagi mereka di atas tingkat ketiga Qi Condensation, tidak banyak membantu. Karena setelah tingkat ketiga, energi spiritual yang dibutuhkan amatlah banyak; sehingga energi yang seperti ini tidak cukup berguna.

Meskipun demikian, bagi Meng Hao, pemberian ini sangat berharga, bahkan lebih daripada Dry Spirit Pill. Karena Gua ini, Meng Hao sangat gembira.

Tanpa berpikir panjang, dia duduk bersila, memejamkan mata, dan memulai latihan pernapasannya. Setelah beberapa jam, sebagian besar energi spiritual yang terakumulasi di sini semakin berkurang. Meng Hao membuka matanya, dan terlihat tatapannya yang tajam berkilau.

“Beberapa jam meditasi di sini senilai sekitar satu bulan kultivasi di luar. Akumulasi energi spiritual ini butuh waktu lama untuk berkumpul lagi, dan mungkin tidak akan seperti ini lagi. Meski begitu, berlatih kultivasi di sini, akan sangat cepat dibandingkan di luar sana. ” Dia berdecak. Melihat sekeliling, ia melihat bahwa pada dinding terdapat ukiran dan simbol-simbol aneh yang tidak ia mengerti.

“Spirit Spring dapat mengumpulkan begitu banyak energi spiritual karena simbol-simbol ini. Elder Sister Xu pasti menggunakan metode ini untuk mengumpulkan energi lalu menghimpun semuanya sekaligus. “Meng Hao berpikir sejenak, lalu mendapat inspirasi. Ia kembali duduk dan mulai melakukan latihan pernafasan.

Malam berlalu dengan cepat, dan saat matahari terbit keesokan paginya, Meng Hao membuka matanya. Energi spiritual di ruang batu sudah sangat tipis. Tapi Spirit Spring masih ada di sana. Setelah beberapa lama berlalu, energi spiritual pasti akan terbentuk kembali.

Meng Hao meluangkan waktu sejenak untuk merasakan tingkat kultivasinya. Tampaknya dia telah menghasilkan kemajuan yang senilai dengan kultivasi selama dua bulan.

“Jika aku bisa berlatih kultivasi dengan cara ini beberapa kali lagi, aku harus bisa melewati tingkat pertama Qi Condensation dan masuk ke tingkat kedua!” Dia menarik napas, bersemangat. Dia sangat ingin menerobos melewati tingkat pertama, karena hanya dengan mencapai tingkat kedua Qi Condensation, seseorang bisa membuka Immortal Skill pertama di Manual Qi Condensation.

Sambil berpikir tentang Immortal Skills, Meng Hao meninggalkan ruangan batu, menutup pintu batu yang dianggapnya sebagai permata atau harta yang berharga. Dia memutuskan untuk menggunakan cara Elder Sister Xu. Dia tidak akan berada di samping Spirit  Sring terus menerus. Dia hanya perlu menunggu beberapa waktu berlalu, lalu kembali untuk menghimpun energi spiritual.

Duduk di sana di Gua Immortal, Meng Hao mengelus-elus perutnya. Berpikir bahwa selama beberapa hari ini, dan melihat ke bawah pada perutnya yang kurus, dia menyadari bahwa dia belum pernah makan lagi binatang liar baru-baru ini. Bahkan buah liar pun tidak.

Setelah menjadi murid Outer Sect, dia merasa dia belum pernah makan sebanyak saat menjadi pelayan. Selama memiliki cukup Spirit Stones, kita bisa membawanya ke Pill Cultivation Workshop milik Sect untuk menukarkannya dengan Fasting Pills atau Appetite Control Pills. Dikatakan bahwa satu saja pil semacam itu akan menghilangkan lapar berhari-hari. Tanpa memiliki Pil tersebut, Cultivatior masih tetap harus meluangkan waktu mencari makanan.

Setelah memikirkannya sebentar, Meng Hao memutuskan untuk pergi ke luar sebentar. Angin segar bertiup melewatinya dan terus menuju ke hutan sekitarnya. Saat dia berjalan, dia mengambil cermin tembaga dari bag of holding miliknya untuk dipegang, seperti telah menjadi kebiasaannya.

Sekarang, dia benar-benar yakin bahwa Treasure Pavilion Brother telah menipunya. Tidak ada yang aneh sama sekali tentang cermin ini. Sudah setengah bulan lebih dan dia belum menemukan sedikitpun hal aneh pada carmin tersebut.

“Sayangnya, aku hanya punya setengah Spirit Stone sekarang. Aku yakin aku harus menggunakannya untuk menyuap dia agar membolehkan aku menukarkan cermin tesebut. “Dia mengulurkan tangannya dan mengambil Spirit Stone dalam bag of holding, lalu dia merasa kecewa.

Mendadak dia terdiam di tempat, mengangkat kepalanya saat melihat ada kilatan warna di kejauhan di dalam hutan. Gerakannya tidak terlalu cepat. Mata Meng Hao berkilauan. Berdasarkan pengalamannya beberapa bulan terakhir saat menangkap ayam hutan, dia tahu persis apa itu. Ayam hutan.

Tanpa sempat mennyimpan kembali cermin tembaga dan Spirit Stone ke dalam bag of holding, dia memasukkannya ke dalam saku dan melompat ke depan. Sejak energi spiritual muncul di tubuhnya, Meng Hao menyadari bahwa dia jauh lebih gesit daripada sebelumnya. Meski masih agak lemah, kini ia bisa melesat ke depan dengan dahsyat.

Apalagi saat ini, setelah mencapai tingkat pertama Qi Condensation, sebuah lompatan seperti yang baru saja dia lakukan mendorongnya maju dengan sangat cepat. Dalam waktu sekitar sepuluh detik, dia bisa menangkap ayam hutan yang ketakutan itu. Dia menggenggam kedua sayap ayam tersebut hingga tidak bisa bergerak.

“Aku ingin tahu bagaimana kabar si Gendut belakangan ini,” katanya, memikirkan Little Fatty sambil mengangkat ayam itu. Mungkin dia sebaiknya menemuinya dan berbagi daging ayam tersebut. Saat dia berbalik, dia tiba-tiba merasakan sesuatu di dalam jubahnya menjadi panas.

Beberapa saat kemudian, ayam yang sebelumnya diam di tangannya mulai meronta-ronta dan mengeluarkan suara kotekan yang menyedihkan. Ayam tersebut meronta kuat sampai membuat Meng Hao hampir tidak bisa memegangnya lagi.

Ayam hutan itu meronta keras, berkotek dengan dashyatnya. Kemudian, suara meletus terdengar dari pantatnya, yang kemudian tiba-tiba meledak, menyebabkan ptongan daging dan darah beterbangan ke segala arah.

Semuanya terjadi begitu tiba-tiba. Meng Hao berdiri terkesima. Sejak tiba di gunung ini, dia telah menangkap beberapa ekor ayam hutan liar. Tapi ini pertama kalinya dia melihat hal seperti ini. Dia melihat ke bawah dengan kaget pada ayam yang sudah mati dan pada bagian belakangnya yang meledak. Lalu dia melihat sekeliling. Semuanya masih sama dan tetap sepi. Bahkan bayangannya pun tidak bergerak.

“Apa yang baru saja terjadi?” Meng Hao menggigil. Kematian ayam liar itu sangat menyedihkan. Pasti mengalami rasa sakit yang luar biasa karena pantatnya meledak.

Meng Hao menarik napas dalam-dalam, menekan kegelisahan yang dirasakannya. Kematian ayam liar itu terlalu aneh dan mengerikan. Dia merasa seolah angin dingin meniup punggungnya.

“Ada yang tidak beres,” kata Meng Hao. Dia membuang ayam mati itu, lalu mengeluarkan cermin dan Spirit Stone. Dia ingat bahwa sebelum kejadian aneh terjadi pada ayam itu, sesuatu di jubahnya mulai menjadi panas.

“Mungkinkah itu Spirit Stone …” Lalu matanya jatuh ke cermin tembaga. Jantungnya mulai berdegup kencang dan sinar yang kuat terpancar di matanya.

“Jangan jangan …” Tangan yang memegangi cermin mulai gemetar. Tak ada waktu untuk makan dengan Little Fatty. Sambil mencengkeram cermin, ia berlari secepat mungkin ke dalam hutan, mencoba menemukan binatang liar lainnya. Dia perlu tahu apakah pembunuh ayam hutan itu benar-benar cermin tersebut.

Tanpa harus berlari lama, seekor rusa liar muncul tepat di depannya. Rusa itu berdiri di sana memandangnya dengan lugu, lalu tampak marah. Meng Hao segera mengarahkan pantulan cahaya cermin ke arah ruda tersebut.

Ekspresi rusa segera berubah. Ia melompat untuk melarikan diri, menjerit ketakutan, sangat menyayat hati. Siapa pun yang mendengarnya hanya bisa membayangkan betapa sengsaranya makhluk yang menjerit itu. Meng Hao bisa dengan jelas melihat panggul rusa itu saat meloncat ke udara. Sebelum bisa mendarat, pantatnya meledak dengan keras, tubuhnya menggelepar saat jatuh.

Melihat rusa yang mati itu, lalu kembali ke cermin, ekspresi kegirangan yang belum pernah terlihat sebelumnya muncul di wajah Meng Hao.

“Sungguh sebuah benda ajaib! Benar-benar benda ajaib!!

“Aneh sekali. Benda ajaib yang meledakkan pantat hewan liar …” Meski sama sekali tidak memahaminya, ia sangat gembira. Terlepas dari mengapa cermin itu melakukan ini, dia menjadi gatal untuk mengujinya pada beberapa hewan lagi.


Prev Chapter | Next Chapter